FENOMENA JOKOWI

Perhitungan  Cepat PILKADA DKI

Dibandingkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok), dana kampanye Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) mencapai tujuh kali lipat lebih. Pasangan Foke-Nara ini disokong dana kampanye sekitar Rp 70 miliar, sedangkan pasangan Jokowi-Ahok hanya sekitar Rp 9 miliar.

Dengan dana kampanye Rp 70 miliar, Fauzi memang bisa melakukan apa saja. Iklannya ada di semua televisi, radio, spanduk, dan baliho. Sebagai incumbent, dia juga leluasa berkampanye mengatasnamakan Gubernur Jakarta. Dukungan tokoh juga tak kurang. Ryaas Rasyid, Wiranto, dan Sutiyoso berada di belakangnya.

Namun dana kampanye yang besar tak menjamin pasangan Foke-Nara ini unggul. Pada babak pertama, Jokowi unggul 1-0. Perolehan suara pasangan Fauzi Bowo Nachrowi Ramli, versi hitung cepat sejumlah lembaga survei, di bawah pasangan Jokowi-Ahok, yaitu sekitar 33 persen. Sedangkan pasangan Jokowi-Ahok meraup dukungan terbanyak, yaitu 42,6 persen.(Yahoo Indonesia News).

Sistem pemilukada DKI Jakarta yang secara langsung menjadi alasan utama kemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama atas lima pasangan lainnya. Pasalnya, dengan sistem itu ketokohan menjadi lebih penting ketimbang dukungan partai. ”PDIP dan Gerindra itu bukan partai besar di Jakarta. Tapi Jokowi bisa mencuri dukungan dari suara non-Jokowi,” kata peneliti Lembaga Survey Indonesia, Burhanuddin Muhtadi di Jakarta, Rabu (11/7) .

Hingga pukul 17.00 WIB, penghitungan cepat LSI memperlihatkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama unggul jauh dari pasangan lainnya dengan perolehan 42,75 persen. Diikuti oleh Fauzi Bowo-Nachrawi Ramli sebesar 33,56 persen, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 11,91 persen, Faisal Basri-Biem Benyamin 4,93 persen, Alex Noerdin-Nono Sampono 4,77 persen, dan Hendardji Supandji-A Riza Patria 2,07 persen (Repulika.co.id).

Bagi Jakarta Cagub yang jujur itu tak cukup. Harus bisa punya kapsitas untuk memimpin. Jokowi dapat kredit karena dia dianggap sukses. Makanya, kelas menengah dan masyarakat yang antikemapanan di Jakarta sebagian besar ke Jokowi,” papar Burhanuddin. Ia pun membandingkan Jokowi dengan pasangan lainnya. Alex misalnya yang dianggap punya kelemahan karena dianggap kurang berintegritas. Ini lantaran Alex sempat dipanggil KPK setelah memutuskan maju menjadi cagub. Faisal dianggap memiliki lumbung suara yang sama dengan Jokowi. Bahkan, sebelum Jokowi maju, Faisal memiliki dukungan suara yang kuat. Namun, pasca-Jokowi, suara pendukung Faisal malah tersedot ke Jokowi (Repulika.co.id).

Kampanye Terselubung.

Kampanye terselubung Fauzi Bowo, dalam acara bertajuk “Sosialisasi Program Wajib Belajar 12 Tahun”. Mengenakan seragam gubernur dan naik podium di hadapan sekitar 4.000 guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia, dia sekali lagi menegaskan, “Saya ke sini tidak kampanye”, faktanya, sepenggal pantun yang belakangan kerap menemani agenda kampanyenya dibiarkan membuntuti.(tempo.co).

Bawalah air ke dalam gelas
Jangan dituang ke atas batu
Bulan Juli tanggal sebelas
Jangan lupa… (“coblos nomor satu” diteruskan oleh para guru).

Pantun bahkan berbalas. Adalah Ketua PGRI Muhammad Arif yang juga melantunkan pantunnya. Menurut dia, kesejahteraan guru semakin baik selama Fauzi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Maka jadilah pantun ini:

Ke Pasar Baru membeli sutera
Sutera dipakai untuk ke pesta
Kenapa guru makin sejahtera
Karena Pak Fauzi gubernur kita

Adapun Fauzi membantah bila dikatakan melakukan kampanye terselubung. “Itu tidak benar,” katanya, singkat. Ketika dihubungi, Ketua Badan Pengawas Pemilu DKI Jakarta Ramdansyah menegaskan bahwa calon gubernur incumbent harus cuti kalau hendak berkampanye. Dia merujuk ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. “Ada ancaman pidana hingga 6 bulan,” kata dia.

Ikut memberi bantahan adalah Kepala Media Center Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Kahfi Siregar. Menurut dia, seorang calon gubernur disebut berkampanye bila memenuhi tiga unsur: ada program kerja atau visi misi; logo, gambar, atau nomor urut pasangan; dan ajakan untuk memilih. “Apakah tiga unsur itu ada di acara tadi?”

Toh, Koordinator Indonesia Corruption Watch Divisi Korupsi Politik, Abdullah Dahlan, tetap melihatnya sebagai bentuk kampanye terselubung. Selain menyalahkan Panitia Pengawas yang tidak jeli, Abdullah menunjuk apa yang dilakukan Fauzi di tengah ribuan guru itu contoh birokrat yang tidak netral (tempo.co) .

(bersambung….)

 

 

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s