Profil Peneliti Teten Masduki

Secara fisik, penampilan Teten Masduki yang dijuluki sebagai Ikon Aktivis Anti Korupsi dan sebagai peneliti masalah-masalah hukum, terutama permasalahan korupsi dari ICW biasa saja. Namun ia mudah dikenali karena kepalanya yang botak. Meski “kumis jenderal” menempel di atas bibirnya, tidak ada kesan galak pada dirinya. Tapi kalau “berhadapan” dengan tindak penyelewengan uang rakyat dan negaranya, ia sangat garang, jenderal pun dilibasnya. Teten Masduki, seorang pria pemberani kelahiran Garut, Jawa Barat, 6 Mei 1963, memang salah seorang yang pantas dijuluki sebagai ikon aktivis anti korupsi di Indonesia. Teten mengaku apa yang dilakukan selama ini tidak ada yang luar biasa.

Menurutnya, apa yang dilakukan sebenarnya memang sudah seharusnya dilakukan, mengingat korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah dan menimbulkan problem yang hingga kini sulit diberantas (http://www.tokohindonesia.com). Kendati berbagai isu miring juga terkadang mewarnai aktivitasnya. Korupsi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa. Kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie runtuh karena korupsi. Raja-raja Nusantara juga demikian, selain karena perebutan takhta. Korupsi yang dibumbui ketidakadilan pula yang meruntuhkan Orde Baru pada 1998.

Berbarengan dengan munculnya zaman baru, Teten Masduki dan sejumlah nama lain mendirikan Indonesia Corruption Watch (ICW) (http://ideguru.wordpress.com).

Namanya mencuat ketika Indonesia Corruption Watch (ICW), membongkar kasus suap yang melibatkan Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada masa pemerintahan BJ Habibie. Gebrakannya melalui ICW itu memaksa Andi Ghalib turun dari jabatannya. Berkat keberaniannya mengungkap kasus itu, Teten dianugerahi Suardi Tasrif Award tahun 1999. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lembaga seperti ICW bisa mendorong jatuhnya pejabat tinggi negara. Akan tetapi, itu ternyata hanya kemenangan kecil. Hingga 11 tahun kemudian, korupsi masih menjadi penyakit berat yang membusukkan birokrasi negeri ini. Menurut Teten, perlawanan terhadap korupsi adalah peperangan yang panjang dan kita masih pada tahap awal.

Teten Masduki, pada era reformasi 1998, aktif sebagai Koordinator Indonesia Corruption Watch. Keterlibatannya di ICW didorong kegeramannya melihat merajalelanya korupsi di negeri ini. Sebagai koordinator ICW, suami dari Suzana Ramadhani ini pun terus menggelorakan gerakan anti korupsi sehingga mendapat penghargaan Ramon Magsaysay 2005, untuk kategori pelayanan publik dari Yayasan Magsaysay, Filipina, atas perjuangannya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Penyerahan penghargaan dilakukan di Manila 29 Agustus 2005. Teten Masduki mengaku agak surprise mendapat penghargaan itu lantaran merasa apa yang dilakukan selama ini tidak ada yang luar biasa. Menurutnya, apa yang dilakukan sebenarnya memang sudah seharusnya dilakukan, mengingat korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah dan menimbulkan problem yang hingga kini sulit diberantas. Teten mengakui, penghargaan tersebut memberikan energi baru baginya dalam bergelut di dunia pemberantasan korupsi. Penghargaan ini semakin memperteguh keyakinannya bahwa langkah yang mereka lakukan selama ini meskipun belum membuahkan banyak hasil, tetapi sudah dihargai.

Teten adalah anak seorang petani, ayahnya Masduki dan ibunya Ena Hindasyah. Dia dibesarkan dalam kesederhanaan hidup di Limbangan, Garut, Jawa Barat. Ayahnya sering berpesan agar ia jangan jadi pegawai negeri atau tentara. Pendidikan SD sampai SMA berjalan apa adanya tanpa perhatian khusus dari kedua orang tuanya. Semula ia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Namun akhirnya, ia kuliah di jurusan matematika dan kimia IKIP Bandung tahun1987.Tapi perhatiannya terhadap masalah-masalah sosial sangat menonjol. Bahkan sejak SMA hingga saat kuliah, ia sering ikut kelompok diskusi, mempelajari masalah sosial.

Sejak 1985, Teten mulai  terjun di dunia aktivis. Pertama kali dia ikut aksi demontrasi membela petani Garut yang tanahnya dirampas. Kemudian setelah menyelesaikan pendidikannya dari IKIP, dia direkrut LSM informasi dan studi hak asasi manusia. Dia memulai aktivitasnya sebagai staf peneliti pada Institut Studi dan Informasi Hak Asasi Manusia (1978-1989). Teten Masduki pernah mengikuti Kursus selama tiga bulan tentang kepemimpinan LSM di El Taller, Tunisa(1989).

Kemudian dia menjabat Kepala Litbang Serikat Buruh Merdeka Setiakawan (1989-1990). Dari sana, dia beranjak menjabat Kepala Divisi Perburuhan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) tahun 1990-2000. Ketika itu dia makin banyak berhubungan dengan buruh. Apalagi pada saat yang bersamaan, dia juga aktif sebagai Koordinator Forum Solidaritas Buruh (1992-1993) dan Koordinator Konsorsium Pembaruan Hukum Perburuhan (1996-1998). Selanjutnya karir Teten berkiprah sebagai aktifis anti korupsi yaitu sebagai Ketua Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch tahun 1998, kemudian Teten Masduki, tahun 2000 menjadi anggota Ombudsman Nasional.

Pada tahun 2000 ayah dari Nisrina mendapat penghargaan Alumni Berprestasi IKIP Bandung. Teten Masduki mengawali kerja sebagai volunteer pada Institute of Human Rights Information and Studies (INSAN). Pada saat yang sama, menjadi guru sekolah lanjutan atas negeri di Tangerang, dan mundur sebelum cita-citanya jadi penilik sekolah tercapai. Karir Teten Masduki saat ini menjadi Sekretaris Jenderal Transparency Indonesia (2009 – sekarang).

Sebagai aktivis yang kerap berhadapan orang-orang yang diduga terlibat kasus korupsi, Teten kerap mendapat tekanan. Bahkan, pernah diancam akan diburu sampai ke liang kubur sekalipun. Ketika berhadapan dengan Andi M. Ghalib, ia mendapat tuduhan mencemarkan nama baik. “Ya, ini dagelan saja,” komentarnya, ringan. Ada pula pengusaha, yang datanya masuk dalam daftar ICW, menawarkan fasilitas kendaraan dan lain-lain, asalkan datanya tidak diumumkan. Tentu saja ICW menolak. Teten suka humor. Ketika ribut-ribut soal fasilitas mesin cuci untuk anggota DPR, di zaman pemerintahan Abdurrahman Wahid, Teten bersama staf ICW menghadiahkan lima papan penggilas cucian kepada DPR. Teten tetap bertahan hidup di jalur ini. “Saya tetap dapat bertahan hidup dengan istri dan anak saya, dan bisa survive dengan hidup yang layak,”

Teten Masduki termasuk dari delapan orang yang dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan dimintai pendapatnya tentang masalah yang membelit, antara Polri-KPK. Namun Teten kemudian menolak dimasukkan ke Tim 8 yang dibentuk SBY. Alasan laki-laki asal Garut itu, dirinya ingin independen, tak ingin menjadi boneka dan bekerja dengan bebas. Itu adalah penolakan Teten kali kedua. Sebelumnya, ketika Presiden SBY membentuk tim yang kemudian menunjuk Pejabat Pelaksana Tugas Pimpinan KPK, Teten juga menolak masuk di dalamnya. Dia mengakui, memang sempat ada pendapat yang menempatkannya sebagai orang yang ”pengecut” dengan keengganannya duduk di komisi yang dibentuk Presiden SBY. Namun kata Teten, biarlah masyarakat yang menilai, siapa dirinya.

Korupsi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa. Kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie runtuh karena korupsi. Raja-raja Nusantara juga demikian, selain karena perebutan takhta. Korupsi yang dibumbui ketidakadilan pula yang meruntuhkan Orde Baru pada 1998. Berbarengan dengan munculnya zaman baru, Teten Masduki dan sejumlah nama lain mendirikan Indonesia Corruption Watch (ICW). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lembaga seperti ICW bisa mendorong jatuhnya pejabat tinggi negara. Akan tetapi, itu ternyata hanya kemenangan kecil. Hingga 11 tahun kemudian, korupsi masih menjadi penyakit berat yang membusukkan birokrasi negeri ini. Menurut Teten, perlawanan terhadap korupsi adalah peperangan yang panjang dan kita masih pada tahap awal. Ketika ICW mulai dikenal sebagai lembaga yang gigih melawan korupsi, Teten justru ”meninggalkannya” secara kelembagaan. Teten bergabung dengan Transparansi Internasional Indonesia dan menjadi sekretaris jenderal di lembaga itu.

Ketika ditanya kenapa meninggalkan ICW Teten menjawab saya tak pernah benar-benar pergi dari ICW (Teten masih menjadi Dewan Penasihat ICW). Tetapi, generasi baru harus tumbuh. Di ICW sekarang sudah banyak anak muda. Sudah saatnya mereka tampil ke depan. Perang melawan korupsi ini adalah perang panjang. Kebanyakan LSM mengkritik oligarki, tapi sering kali melanggarnya sendiri. Pemilik yayasan atau pendiri seolah-olah menjadi pemiliknya. Mereka hanya mau merekrut ”jongos” atau pelayan. Tak ada regenerasi. Akibatnya, banyak lembaga yang mati ketika generasi pertama tak ada lagi. Ini keliru. Saya bangun demokrasi total di ICW.

Saya melimpahkan kekuasaan secara merata. Saya percaya, jika LSM hanya dimiliki pemilik yayasan, tidak akan pernah jadi fondasi gerakan sosial. Tahun 2004 Teten Masduki menjadi salah satu dari 25 Bintang Asia versi Majalah Bussiness Week. Majalah tersebut menempatkan Teten dalam kategori Pembentuk Opini (Opinion Shapers), bersama-sama dengan Feng Xioagang (sutradara Cina), Nick White (Direktur Welcome Trust Southeast’s Asia, Thailand), Kiran Karmik (Presiden Nasscom India), Wu Chuntao dan Cen Guidi (Pengarang China’s Peasants: An Investigation). Juga terdapat nama Sonia Gandi untuk kategori Pembuat Kebijakan (Policy Maker). Teten merasa bahagia kerja kerasnya selama ini mendapat pengakuan. Tapi, itu semua tidak lepas dari bantuan teman-teman jurnalis, ucapnya. Menurutnya, pengakuan terhadap dirinya itu tak lain karena adanya opini-opini yang selama ini dibangun oleh ICW melalui media. Media umum, kata Teten, dapat menjadi sarana advokasi. Ia berharap, pengakuan yang diterimanya dari Bussiness Week mampu memberi semangat baru untuk terus bekerja memberantas korupsi. Ini harus menjadi inspirasi juga bagi rekan-rekan yang lain di ICW, katanya.

Mantan Koordinator ICW ini pada suatu kesempatan dihubungi oleh wartawan VIVAnews menyatakan enggan untuk mendaftarkan diri menjadi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Teten Masduki yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Transparansi Internasional Indonesia ini berkilah ingin aktif di gerakan sosial saja, “Masih banyak tokoh yang layak dibanding saya,” (VIVAnews.com).

Dalam suatu wawancara yang dimuat dalam website http://www.koran-jakarta.com, soal pemberantasan korupsi Teten mengatakan ”Pemberantasan korupsi itu seharusnya memang dimulai dari kepolisian dan kejaksaan,” berkaitan dengan persoalan-persoalan korupsi di Indonesia Presiden Susilo Bambang Yodhoyono mengundang Teten Masduki untuk berdialog. Denny Indrayana yang staf presiden, menghubungi saya, katanya, SBY mau ngomong. Saya lalu bilang, kalau saya sudah sering ngomong di media tapi Denny bilang, SBY mau heart to heart, bukan komunikasi lewat koran. Kata Denny, SBY juga tanya “Apakah Teten mau datang?” Dia agak ragu juga. Karena itu kata Denny, kalau saya tidak datang, kurang afdal.
Sebagai rakyat yang baik saya pasti datang. Ingin menghormati presiden dan barangkali karena saya juga tidak mau dikesankan sebagai “banci.” Karena saya juga tidak mau dianggap pengecut, saya bilang OK.

(RF : diolah dari berbagai sumber)

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s