J. Kristiadi Peneliti Sukses

Prof. Joseph Kristiadi pria berkacamata ini dikenal sebagai peneliti senior dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). J. Kristiadi lahir di Yogyakarta, 24 Maret 1948, putra pasangan R.P. Pronojono Pujowinarto dan ibu R.P. Sulastri, menikah dengan Anastasia Soemiyati dikaruniai dua anak yakni Rosa Maria Dianing Dyah Maharani dan Josef Rahadiyan B. Wicaksono. Sebagai peneliti dan pengamat yang sudah berkiprah selama kurang lebih 30 tahun, ia akrab dengan topik penelitian seputar peran TNI, perkembangan politik dan pertahanan. Dia seorang narasumber bagi berbagai media yang pendapatnya seringkali dianggap berwarna dan kontroversial.

Pada saat kampanye Pemilu Presiden 2004, komentar-komentarnya dianggap berbagai pihak sangat menjagokan Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono daripada Megawati Soekarnoputri. Berbagai pihak melihatnya sangat dekat dengan politik TNI. Salah satu pernyataannya yang cukup kontroversial, mengenai peran politik TNI adalah mengenai sudah seharusnya TNI mempunyai hak pilih dalam pemilu. Karena, menurutnya, TNI itu adalah warga negara biasa. Maka TNI boleh saja memimpin sebuah partai politik, asalkan bisa menyesuaikan dengan habitatnya yang baru. Pernyataan ini terasa sumbang di tengah teriakan untuk segera mengikis kiprah politik TNI di tengah pemberdayaan masyarakat sipil.

Sebagai orang yang setiap hari mengamati politik, kata Kristiadi sambil geleng-geleng kepala, “Kadang-kadang saya menjadi deg-degan kalau kita melihat televisi, baca koran, apa yang akan terjadi di negara ini.” Lalu ia menambahkan, “Manajemen sentralistik satu orang, satu komando, dibangun dengan institusi-institusi yang menopang itu semua, tiba-tiba runtuh secara revolusioner. Kekuasaan yang semula satu komando, kemudian menjadi berada di mana-mana. Sekarang orang memiliki kekuasaan sendiri-sendiri.”

Namanya semakin mencuat setelah menekuni profesinya sebagai peneliti dan pengamat politik menjelang dan sesudah Soeharto lengser dari kekuasaan, bahkan hingga kini pun ia masih sering tampil baik di media televisi dan radio, media cetak, media on-line, dalam acara-acara seminar, peluncuran buku, dan dalam berbagai kegiatan yang membahas analisis politik negeri ini. Tak aneh jika ia merupakan salah satu pengamat politik paling popular di negeri ini. Meski sudah populer, Kris dengan rendah hati menyikapinya, “Saya merasa biasa saja.” Nama J. Kristiadi kerap dianggap sama dengan nama J.B Kristiadi yang menjabat sebagai sekretaris menteri Negara Komunikasi dan Informasi diera Pemerintahan Presiden Megawati. Meski Kristiadi yang satu ini tidak disertai huruf “B”, banyak undangan seminar dan perkawinan, serta permintaan wawancara yang nyasar ke alamatnya. Begitu pula sebaliknya.

Kris, begitu ia biasa dipanggil, beragama Katolik dibesarkan dalam keluarga pegawai. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah rumah sakit dan ibunya seorang guru di sekolah dasar di Yogyakarta. Sewaktu Kris kelas 3 SD Komendaman Yogyakarta, ia tidak bisa memiliki buku karena orang tuanya tidak mempunyai uang. Suatu kali, ibunya mengajaknya ke makan neneknya, dan di sana mereka berdoa. Saat berdoa, Kris minta diberikan buku. Entah dari mana datangnya uang, doa si sulung dari tujuh bersaudara ini terjawab, ia dibelikan buku oleh ibunya.

Kehidupan keluarga Kris boleh dibilang pas-pasan. Gaji orangtuanya yang kecil sudah habis pada pertengahan bulan. Seringkali ia harus naik sepeda sejauh 15 kilometer ke rumah neneknya untuk mengambil beras. Hal ini dilakoninya sejak kelas 3 SMP Pangudi Luhur Yogyakarta hingga SMA. Selesai dari SMA De Brito Yogyakarta, Kris melanjutkan kuliah Strata 1 di Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Jurusan Ilmu Politik. Demi biaya kuliah Kris, ayahnya menjual sawah dan ibunya bekerja keras mencari tambahan penghasilan. Meskipun demikian, Kris masih sering terlambat membayar SPP dan harus melapor ke pembantu rektor II meminta perpanjangan waktu bayar. Suatu kali, sejarawan Prof. Sartono Kartodirjo mengajaknya ikut penelitian. Awalnya ia ikut karena ingin memperoleh honor untuk mengisi kantong sakunya yang sering kembang kempis. Namun, motivasinya ini berubah. Lama kelamaan ia benar-benar tertarik pada dunia penelitian.

Lulus kuliah dari Universitas Gajah Mada tahun 1976, Kris masuk CSIS dan merasa cocok berkarya di lembaga penelitian tersebut. Oleh Harry Tjan Silalahi, peneliti di CSIS, ia diminta sekolah lagi. Awalnya ia merasa bingung, namun akhirnya mendaftar juga di Pascasarjana UGM, awal 1990, dan dalam waktu tiga tahun enam bulan ia menggondol gelar doktor tahun 1993 dengan predikat cum laude. Disertasinya berjudul “Perilaku Pemilih Masyarakat dalam Pemilu Kurun Waktu 1971-1992.” Kemudian, ia kembali berkerja di CSIS sebagai peneliti.

Setelah 30 tahun mengamati perpolitikan, Kris mengakui bahwa menjadi peneliti tidak hanya sebagai pekerjaan ataupun profesi, tapi merupakan panggilan hidup. Walau menjadi peneliti tidak bisa kaya, ia merasa sudah kaya. “Orang bisa kaya asalkan tahu batas kebutuhan. Bisa pakai baju tidak bermerek tapi enak dipakai, bisa menyekolahkan anak di tempat yang baik, punya mobil walau pinjaman kantor, itu sudah kaya,” kata ayah dua anak yang punya prinsip hidup ‘ojo dumeh’ (jangan sok) ini. Yang paling ia tidak disukai: kemunafikan. “Saya tidak suka dengan orang yang sok suci dan menganggap dirinya tokoh,” ujar Kris. Terlebih lagi, ia benci dengan pastor yang kelakuannya tidak seperti pastor.

Makanya, kepada anak-anaknya, ia ingin mewarisi bukan dengan kekayaan yang sifatnya materi namun dengan ilmu dan nilai hidup. Ia percaya kedua hal itu cukup membuat anak-anaknya survive dengan baik dalam menjalani kehidupan ini.
Selain itu, ia juga mengajarkan kultur berani berargumentasi dan banyak membaca kepada anak-anaknya, minimal 3-4 jam sehari. “Setelah itu, mereka boleh main asalkan tidak di night club dan semacamnya,” ujar suami Anastasia Soemiyati —bekas temannya di Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Di usianya yang sudah berkepala lima, Kris tetap berusaha menjaga kebugaran tubuhnya dengan berolahraga senam dan joging sekitar 25 menit setiap hari setelah bangun pagi. Menurutnya, senam punya filosofi tersendiri. “Dengan senam begitu bangun, kita sudah menang satu poin karena sudah bisa mengalahkan diri kita sendiri dengan memerintahkan organ kita untuk bangun dan senam.” Anastasia Soemiyati, berkata ” Pernah bapak diundang ke Kantor Dephan (Dep. Pertahanan) dimana ada kejadian lucu yang terjadi. Bapak datang kesana dengan mobil panther kesayangannya dan ketika sampai disana, ada hal yang terasa sangat kontras dg mobil2 yang ada dikantor tsb, karena mobil2 bapak pejabat yg mewah banyak berjejer sampai – sampai ada seorang pengawal yang melarang mobil tua tersebut parkir di halaman utama..dan mobil tua tersebut disuruh parkir di halaman belakang. (red : batin si sopir ” tuh tentara belagu amat, belum tau apa ini mobil siapa? sembarangan nyuruh gw pindah parkiran >.< “) dan mendengar laporan tsb dari si sopir tentu saja bapak langsung menyuruh supirnya untuk tetap parkir di lahan yang telah disediakan “

Disamping sebagai peneliti di CSIS, J. Kristiadi yang bertempat tinggal di Jalan Dahlia II, Tomang Raya, Jakarta Barat dan berkantor Jalan Tanah Abang III/27, Jakarta Pusat, di diantaranya adalah pernah menjadi anggota kelompok kerja road map untuk perdamaian provinsi NAD, sebagai anggota tim ahli menteri dalam negeri dalam menyiapkan RUU Aceh pasca Helsinki Memorandum of Understanding serta RUU politik, revisi UU 32 tahun 2004 tentang  pemerintahan daerah, rencana undang-undang pemilihan kepala daerah, dan lain-lain. General activities J. Kristiadi diantaranya adalah sebagai penulis tetap analisis politik di harian Kompas, komentator masalah sosial politik, keamanan dan pertahanan, konstitusi, otonomi daerah, serta isu-isu  politik pada umumnya. Pembicara pada berbagai seminar konferensi, workshop, expert meeting, nara sumber, dengar pendapat dengan DPR mengenai isu-isu politik  pertahanan, keamanan dan lain sebagainya. Sejak Tahun 1990 sampai sekarang, Kris juga berperan sebagai Anggota Dewan Direktur Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), Kris juga aktif dalam Kelompok Kerja Reformasi Konstitusi dan pemilihan presiden.

Pengalaman Kerja:

  1. 1995-Sekarang : Dosen tetap Fisipol Atma Jaya Yogyakarta;
  2. 1995-Sekarang : Dosen tetap Fisipol Atma Jaya Yogyakarta;
  3. 1995-Sekarang : Anggota dewan pembina YAYASAN TRI SAKTI;
  4. 1999-2006: Dosen tamu Sesko TNI, dan mendapatkan Satya Lencana Dwidya Sistha (2004);
  5. 1990-2007: Dosen tamu Sesko AU, Bandung;
  6. 1999-Sekarang: Dosen tamu Lemhanas dan mendapatkan penghargaan Maheswara tingkat tiga, ( 2003);
  7. 2000- Sekarang : Dosen tamu Sespim dan Sespati Polri , Bandung; 1987-1992: Anggota MPR-RI (MPR);
  8. 2000-Sekarang : Dosen tamu Lembaga Administrasi Negara (LAN): Spati/Spamen
  9. 1983-2004: Sekretaris Dewan Direktur CSIS, Jakarta;
  10. 1980’S-2008: Editor of The Indonesian Quarterly (English Edition) dan Analisa (Indonesia Edition);
  11. 2000- 2004 : Konsultan Jaringan Pemantau Pemilihan Rakyat (JPPR);
  12. 2000-2002 : Konsultan of Yappika untuk menyusun Index of Civil Society;
  13. 2000-Sekarang : Pembimbing, ko-promotor dan penguji ahli mahasiswa Universitas Indonesia yang akan mendapatkan gelar master dan doctor;
  14. 2009-Sekarang : Wakil Ketua Dewan Pakar Mapilu-PWI (Masyarakat Peduli Pemilihan Umum-Persatuan Wartawan Indonesia);
  15. 2002-2003 : Pengajar pada kursus singkat anggota DPRD seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Departemen Dalam Negeri;
  16. 1991-1999 : Ketua Departemen Politik CSIS, Jakarta;
  17. 1999-2004 : Wakil Direktur Eksekutif CSIS, Jakarta;
  18. 2005-Sekarang : Sekretaris yayasan CSIS, Jakarta

 

Publikasi Pilihan:

  1. Korupsi Politik, Dalam Buku Korupsi Mengkorupsi Indonesia, Penerbit; PT  Gramedia, 2009;
  2. Indonesia The Challenge Of Change, Edited with R.W. Baker, M.H. Soesastro,  D.E. Ramage (iseas, Singapore 1999);
  3. General Elections And Prospect Indonesia Democracy (CSIS, Jakarta 1999);
  4. Civil-Military Relations In Indonesia: Civilian And Military Perception,  Edited with R. Sukma (CSIS, Jakarta 1999);
  5. General Elections: Prospect And Assesment (CSIS, Jakarta 1977);
  6. Conducting Fair And Just Elections, Editor (CSIS, Jakarta 1997);
  7. “The Dynamics Of Political Development And The Urgency For The Revitalization  Of Political System,” Indonesian Quarterly (1997);
  8. “General Elections And Voting Behavior In Indonesia,” Prisma (March 1996);
  9. Reflections On Fifty Year Indonesia Independence, Edited with B. Bandoro, M.  Pangestu, 0. Prijono (Csis, Jakarta 1995);
  10. The Future Role OfABRI In Politics; (Institute Of Southeast Asia Studies;  Singapore, 1999);
  11. Indonesia: Redefining Military Professionalism (Published by East-West  Centre, Hawaii, USA; 2002);
  12. Developing Democratic National Security, In National Security Reform, Edited  by Bantar to Bandoro (CSIS, Jakarta, 2005);
  13. Globalization And Nationalisms.The Slippery Road To Implement Papua Special Autonomy, Journal Of Akbar Tanjung  Institute, Volume 3, (2005);
  14. Demokrasi Dan Etika Bernegara, (www.kanisiusmedia.com, J.Kristiadi, Publish 27-06-2008);
  15. Who Wants To Be The Next President? (www.kanisiusmedia.com, J.Kristiadi, dkk, Publish 24-03-2009);
  16. e- Voting? Mengapa Tidak! (http://evotingindonesia.blogspot.com, J.Kristiadi)

 

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber (Riadi F)

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s