Indra Jaya Piliang Peneliti Sukses

Indra Jaya Piliang terlahir sebagai anak pesisir, tepatnya di kampung Balacan, Kota Pariaman, Sumatera Barat, pada 19 April 1972. dibesarkan di Kepulauan Mentawai, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, dan Sawahlunto Sijunjung. Ayahnya bernama Boestami dengan gelar Datuak Nan Sati. Suku ayahnya Koto. ayah Indra berasal dari Air Angat, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, Indra juga melewati sekolah dasar sampai SMP di sana, tepatnya SD 1 dan SDN 2 Air Angat dan SMP kelas I semester I Koto Lawas, menamatkan Sekolah Menengah Atas 2 di Pariaman, sewaktu di SMA 2 Pariaman pernah memenangkan juara tiga lomba bahasa Inggris. Sementara ibunya bernama Yarlis dari suku Piliang. Ayah dan ibunya memiliki tujuh orang anak, enam laki-laki dan satu perempuan. Nama-namanya adalah Achmad Busra, Zaenul Bahri, Yunas Setiawan, Mardiyah Hayati, Benni Perwira dan Akbar Fitriansyah. Indra adalah anak ketiga.

Indra menikah dengan Faridah Thulhotimah, mendampingi Indra selama 6 (enam) tahun sejak dibangku kuliah, putri pasangan Syamsul Bachri dan Syamsiah. Syamsul adalah keturunan dari suku Yogyakarta dan Betawi, sementara Syamsiah adalah keturunan suku Sunda. Faridah memiliki satu kakak, Hadi Suwarman. Faridah adalah lulusan Jurusan Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Keduanya memiliki dua orang putra, Afzaal Zapata Abhista (21 Juni 2003) dan Fadha Dang Sati Ababil (03 April 2008). Indra mengaku mendapatkan istrinya karena mengikuti Pemilihan Raya Mahasiswa UI. Pada masa kampanye itulah ia bertemu dengan Faridah yang waktu itu menjadi Panitia Pemira (Pemilihan Raya) Senat Mahasiswa UI. Indra kalah, tetapi berhasil menggondol pialanya.

Menjadi petani atau pedagang sukses. Itulah cita-cita awal pria bernama lengkap Indra Jaya Piliang ini. Cita-cita seperti itu tidak lepas dari latar belakangnya yang lama hidup di daerah pedesaan Kabupaten Pariaman Sumatera Barat. Indra hidup di Sumatera Barat, dari tempat dingin di Air Angat Tanah Datar, sampai tempat panas di Mentawai dan Pariaman. Air Angat terletak di kaki Gunung Merapi. Hantu si Bunian, mitos Harimau jejadian dan letusan gunung adalah bagian yang akrab dalam keseharian. Karena itu, Indra adalah anak yang hidup di pesisir dan pegunungan, sehingga udara hangat yang memakar dan dingin yang menusuk tulang selalu datang bergantian. Indra terbiasa dengan perubahan iklim, tetapi Indra merasa tidak mudah diubah oleh iklim itu. Walaupun hidup di lingkungan pedesaan, namun hal-hal berbau politik sudah dia kenal sejak kecil. ”Pertama karena ayah Indra dulu adalah aktivis Partai Masyumi. Kedua, di Sumatera Barat diskusi atau pembicaraan tentang politik itu biasa dilakukan di lapau atau warung. Kalau masalah yang sudah menyentuh kemasyarakatan dan konteksnya dengan agama, dibicarakan di surau (masjid).

Saat akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi, Indra langsung memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Karena menurut orang di kampungnya, kalau bisa sekolah ke Jakarta mengapa cukup merasa puas sekolah di Padang. Indra tidak punya bakat menjadi seorang saudagar, sekalipun ketika pertama kali ke Jakarta Indra berjualan Sate Padang sampai kini bersama dengan saudara-saudara. Indra hanya membantu, tetapi tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan pokok. Tugas Indra jelas, kuliah, kuliah, dan kuliah. Indra juga pernah menjadi Office Boy. Merantau bagi laki-laki Minang sudah merupakan sunatullah. Tidak terkecuali bagi Indra Jaya Piliang, tokoh muda Sumatera Barat yang acap-kali menjadi referensi utama media massa nasional. Indra tidak hanya mengandalkan filosofi Alam Takambang Jadi Guru, melainkan terus mengasah ilmu dan pengalaman, baik dalam semangat relegius ataupun bagi pengayaan batin. Indra mempunyai motto: Mengalir Bersama Ombak, kemudian mottonya dirubah menjadi Mengalir Meniti Ombak.

Indra menamatkan Sarjana Sastra (SS) pada Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1997. Selanjutnya ia meneruskan kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Selama kuliah, ia aktif dalam Studi Klub Sejarah dan pernah menjadi Ketuanya. Pernah juga menjadi Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI dan pengelola Tabloid Ekspresi FS-UI. Di tingkat UI, Ia aktif pada majalah Suara Mahasiswa UI, Senat Mahasiswa UI, Senator Badan Perwakilan Mahasiswa UI, Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya dan pernah ikut latihan marching band Madah Bahana. Ia juga sempat menjadi redaktur pelaksana Surat Kabar Kampus Warta UI. Berbagai jabatan dalam organisasi kemahasiswaan pernah dipegangnya, antara lain di Himpunan Mahasiswa Jurusan, Senat Mahasiswa Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas, Senat Mahasiswa se-Indonesia, Majalah Mahasiswa, Kelompok Studi Mahasiswa, sampai organisasi ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam. Indra terlibat sebagai salah satu aktor intelektual di balik gerakan mahasiswa 1998, terutama di lingkungan Universitas Indonesia.

Saat kuliah Indra juga bergabung dengan Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) dan menjadi pengurus HMI Cabang Depok. Selain itu juga aktif di pers kampus. Tahun 1993-1994 dia menjadi manajer Tabloid Fakultas Sastra UI Ekspresi. Tahun 1994-1995 menjadi Kepala Litbang Majalah Mahasiswa UI Suara Mahasiswa. Pada 1996-1997 menjadi redaktur kepala Koran Kampus Warta UI. Selain itu sejak 1995 dia mulai menulis di berbagai media. Begitu lulus dari UI pada tahun 1997, Indra bekerja sebagai editor Tabloid Jurnal Reformasi dan Moment. Sebagai alumni HMI, dia kemudian bergabung dengan Korps Alumni HMI (KAHMI) Pro, yang merupakan kumpulan kaum muda KAHMI orang-orang yang profesional. Selain itu dia juga aktif menulis artikel untuk Jurnal Madani yang diterbitkan Pengurus Besar (PB) HMI. Indra aktif di Ikatan Mahasiswa Minang (IMAMI) UI ketika mahasiswa dan menjadi penasehat bagi IMAMI UI ketika menamatkan bangku kuliah. Kegiatan perkuliahan juga tidak menghentikan rutinitas kehidupan sebagai aktivis, analis politik dan perubahan sosial. Sebagai aktivis mahasiswa 1990-an, termasuk terlibat dan berada di Gedung MPR-DPR pada malam tanggal 19-20 Mei 1998.

Setelah menggeluti dunia pers, dia bergabung dengan Partai Amanat Nasional. Dalam Partai yang digagas Amien Rais ini, kariernya politik berawal dari menjadi fungsionaris Kepala Departemen Hubungan Media Massa, DPC PAN Tangerang (1998), lalu pada 2000, dia menjadi Staf Departemen Budaya DPP PAN. Seiring berjalannya waktu dia memutuskan tanggal 21 Januari 2001.keluar dari PAN. Dia lalu bergabung menjadi peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS)  sejak 1 Desember 2000 hingga Januari 2009, konsentrasi sebagai penulis, analis, narasumber atau pembicara dalam banyak seminar. Indra sungguh banyak belajar atas konsep Nalar Ajar Terusan Budi, sikap ketelanjangan dalam membaca dan menerima ilmu pengetahuan. Ada banyak tangan yang telah membentuk dan menyentuh Indra dalam lembaga CSIS ini diantaranya Pak Daoed Joesoef, Pak Jusuf Wanandi, Pak Harry Tjan Silalahi, Pak Djisman Simanjuntak, Mas J Kristiadi, Pak Hadi Soesastro, Mbak Clara Juwono, Bu Mari Pangestu, Bang Rizal Sukma, Bang Kusnanto Anggoro, Mas Tommi Legowo, Bu Asnani Usman, Bang Pande Radja Silalahi, Mas Edy Prasetyono dll. Setelah berprofesi sebagai peneliti masalah politik dan perubahan social CSIS, Indra sering diminta menjadi ‘host’ di berbagai talk show untuk tema yang sesuai bidangnya. Antara lain talk show tentang demokrasi di Jakarta News FM, aspirasi publik di Trijaya FM, dan menjadi komentator tetap Delta FM sewaktu Sidang Tahunan MPR 2001 lalu. Rata-rata Indra menulis 60-70 artikel dalam setahun, terutama sejak tahun 2001. Artinya sudah terdapat sekitar 300-350 artikel yang sudah Indra tulis. Kalau dijadikan buku kumpulan artikel, sudah bisa menjadi 7 sampai 10 buku, sesuatu yang belum Indra lakukan. Salah satu “penilaian” Indra masuk ke CSIS adalah juga karena produktifitas penulisan ini.

Selama lebih dari delapan tahun Indra dikenal sebagai peneliti di lembaga penelitian terkemuka di Indonesia dan dunia, yakni CSIS. Di lembaga ini, Indra termasuk peneliti paling menonjol di generasinya. Pemikiran-pemikiran kritisnya sering menghiasi media massa lokal, nasional dan internasional, termasuk majalah TIME, International Herald Tribune, Strait Times, Reuters, Kompas, dan sebagainya. Indra menjadi acuan bagi jurnalis untuk menganalisa persoalan-persoalan sosial, politik, otonomi daerah, masyarakat sipil, partai politik, demokrasi, nasionalisme dan beragam pemikiran lainnya. Indra sudah menulis sekitar 500 artikel, termasuk buku. Selain itu, Indra juga menjadi anggota Dewan Penasehat The Indonesian Institute yang didirikan oleh Jeffrie Geovanie dan kawan-kawan. Aktifitas Indra dalam melakukan penelitian diantaranya adalah penelitian atas korban kekejaman Thaksin Sinawatra di Provinsi Yala, Narratiwat dan Pattani di Thailand Selatan. Dalam masalah-masalah Papua dan Aceh, Indra adalah satu peneliti yang paling menonjol. Yayasan Harkat Bangsa Indonesia, sebuah lembaga penelitian dimana Indra didapuk menjadi Direktur Eksekutifnya, juga telah melakukan riset dan penelitian tentang pelaksanaan otonomi khusus di Papua. Ketua Dewan Pendiri yayasan itu adalah Prof Dr Johermansyah Johan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI. Bagi Indra, Prof Jo adalah ayah angkat yang membimbingnya. Indra Jaya Piliang pernah menjadi anggota Tim Depdagri untuk Revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam komunikasi dan advokasi penyusunan undang-undang, Indra banyak bergaul dengan politisi.

Tahun 2006 Indra memutuskan untuk kuliah Magister atau Pasca Sarjana Bidang Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia yang Indra Indra tamatkan dalam dua tahun. Pada tahun 2008, Indra mendapatkan gelar Magister Sosial Sains (MSi) pada Program Pasca Sarjana Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Indra selama ini dikenal sebagai analis politik yang bernas, jernih dan progresif. Ia tidak memiliki catatan yang buruk. Bahkan, bagi kalangan anak-anak muda generasi intelektual baru, baik ketika mahasiswa atau setelah sarjana, Indra dijadikan sebagai role model (model acuan) bagi kiprah kaum intelektual, baik di Sumatera Barat ataupun di Indonesia.

Di medan diskusi Indra juga menjadi pembicara yang menonjol dalam berbagai lembaga, baik pemerintah, swasta, masyarakat sipil, maupun kampus. Ia sudah berbicara di sekitar 500 forum, antara lain di Lemhannas, Wantannas, Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, UI, UGM, Universitas Syiah Kuala, DPR RI, DPD RI, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, ITB, Bappenas, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Astra Internasional. Indra duduk sejajar dengan kaum intelektual terkemuka Indonesia lainnya, termasuk dengan para menteri, pejabat dan politisi. Di ranah organisasi, Indra aktif dalam berbagai kelompok masyarakat sipil, antara lain Forum Indonesia Damai, Koalisi Konstitusi Baru, Pokja Papua, Koalisi Media untuk Pemilu Damai dan Adil, Koalisi RUU Politik, dan Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk. Sebagai tokoh menonjol di masyarakat sipil, Indra dipilih oleh kalangan masyarakat sipil sebagai Calon Presiden versi Masyarakat Sipil dengan nomor urut 6 (enam) dalam survei yang dimuat oleh Harian Kompas pada 21 Mei 2008. Modal lain yang tidak boleh dianggap enteng dari seorang Indra adalah pertemanan dan hubungan baiknya dengan beragam kalangan, baik politisi, akademisi, jurnalis, aktivis, mahasiswa, kelompok gerakan perempuan, sampai pejabat-pejabat negara. Ia merupakan teman diskusi Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang dalam memajukan Kalimantan. Ia juga berdialog dengan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Karena itu pula, Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla langsung menyebut namanya sebagai calon anggota legislatif yang tengah disiapkan. Dalam bahasa Jusuf Kalla, urang sumando Ranah Minang itu, Indra adalah calon anggota legislatif yang masuk kategori khusus.

Di kalangan ilmuwan dan pemikir manca negara, Indra juga memiliki pergaulan dengan banyak ahli, diplomat, pejabat dan sejawat yang berada di Malaysia, Thailand, Singapura, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Australia, Inggris dan negara lainnya. Pengalamannya dalam mengunjungi negara-negara di kawasan, yakni Malaysia, Singapura dan Thailand serta perhatiannya kepada negara-negara tetangga itu telah menempatkan pemikiran geostrategis dan geopolitiknya menjadi luas. Ia tidak hanya bisa memikirkan persoalan-persoalan dalam konteks lokal, melainkan mampu menghubungkan dengan perkembangan di tingkat nasional, regional dan internasional. Ia bisa menjadi representasi dari politisi Indonesia di tingkat regional. Dengan kualisifikasi seperti itu, Indra terlihat matang dalam usia yang masih termasuk muda di Indonesia sebagai politisi. Sejak pemilu 2004 Indra mulai mengenali para petinggi Partai Golkar, ketika mengamati dari dekat Konvensi Nasional Partai Golkar. Indra juga terus berkomunikasi dengan Prof Dr Djohermansyah Djohan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI, untuk mengetahui pikiran-pikiran Pak Jusuf Kalla. Tahun 2008 Indra bergabung menjadi politisi Partai Golkar, pilihan untuk bergabung ke dalam Partai Golkar juga semakin dikuatkan oleh keluarnya sejumlah petinggi yang berlatar-belakang militer, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto. Kemudian Indra jadi caleg DPR RI 2009-2014 dari Partai Golkar di daerah Sumatera Barat II, yang meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, namun kalah dalam pemilu legislatif untuk DPR RI, dan sekarang tetap berada di Partai Golkar, sebagai Ketua Departemen Kajian Kebijakan DPP Partai Golkar.

Pendapat beberapa tokoh-tokoh tentang Jaya, panggilannya Indra ketika SMA, Indra menurut Budiman Sudjatmiko (PDI Perjuangan): Indra adalah seorang pujangga yang sedang berpolitik. Dia memutuskan menapaki tebing terjal dan berbatu ini, karena dia menolak untuk mendapatkan puji dan puja untuk kata-kata yang dirangkainya dalam artikel atau puisi-puisinya saja, tanpa berbuat apapun. Denny Indrayana(StafKhususPresidenSBY): IJP sobat yang tak henti bekerja, berpikir, menulis dan sekarang makin berpolitik. FadliZon (Partai Gerindra): IJP adalah sosok intelektual yang tak mau berdiri di atas menara gading. Ia ingin terlibat. Ia menyadari bahwa perubahan bisa sangat efektif dilakukan lewat politik. Erwin Aksa (Ketua Umum HIPMI): Indra mengukir reputasinya sebagai peneliti politik yang matang, yang diulas indah dengan keberanian  mengaplikasikan ilmunya dalam kompetisi demokrasi yang nyata, dan pahit. Kedewasaannya ditunjukkan denga berbagi pengalaman yang pasti berharga untuk dirinya dan kita semua. Kini hanya waktu yang akan membuktikan Indra J Piliang sebagai negarawan masa depan. Yuddy Chrisnandi (Calon Ketua Umum Partai Golkar 2009): Indra adalah sosok yang lugas, penuh percaya diri, ceplas-ceplos, kritis, berpikiran radikal, anti kemapanan dan pemberontak. Itulah setidaknya penilaian saya terhadap karakternya.

Tulisan terbaru Indra adalah Memuseumkan-Pemilu dimuat Kompas, 16 April 2008 dan http://www.gagasanhukum.wordpress.com, Survei LSI Dipaksakan! dimuat di www.inilah.com, tanggal 5 Juni 2009, Ada Udang di Balik Kepala, dimuat, Koran Tempo, 23 April 2010 dan di gagasanhukum.wordpress.com, 26 April 2010, kemudian Moncong Senjata Api untuk Warga? Dimuat di blogspot.com, koran-digital-indra-j-piliang, tanggal 15 Juli 2010, Indra mengkritik pemerintah mengeluarkan peraturan yang melegalkan penggunaan senjata api bagi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 26 Tahun 2010 itu mengatur soal penggunaan senjata api bagi Satpol PP.

Sumber : diolah dari berbagai sumber (RF)

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s