Dilema Kartu Kredit

Kartu kredit semula tujuannya upaya mempermudah aktifitas belanja, tanpa membawa uang tunai, kalau mau belanja pakai dulu uang Bank pemberi kartu kredit, kemudian bayar biaya pembelanjaan yang digunakan kepada Bank bersangkutan. Namun sebaliknya kartu kredit bisa, menjadi bencana, utang menjadi menumpuk, bungapun jadi berlipat ganda. Disinilah kelemahan fasilitas kartu kredit, berbeda dengan pinjaman lain di bank, utang melalui kartu kredit ini bisa menjadi bunga berbunga, walaupun pembayaran aktif dilakukan nasabah, dengan besaran tagihan minimal perbulannya. Hal inilah yang menjadi titik bencana bagi nasabah bank pemakai jasa kartu kredit.

Penawaran kartu kredit, mungkin pada awalnya ketat dipraktekkan oleh perbankan, namun fenomenanya saat ini, dengan ketatnya kompetisi dan persaingan antar bank, dan mungkin juga banyak uang bank yang tak tersalurkan dan tidak ekonomis, maka bank jor-joran menyalurkan kartu kredit kepada siapa saja, dan dimana saja. Hal ini bisa dipantau sehari-hari, penawaranpun pihak bank, membuat sebuah counter di mal-mal atau pusat perbelanjaan dan menyebarkan brosur-brosur ditempat keramaian umum.

Kemacetan nasabah terhadap pembayaran kartu kredit bisa berujung pihak bank menggunakan jasa pihak ketiga atau debt collector untuk menagih uangnya. Jika ini terjadi, merupakan sebuah musibah bagi nasabah, karena nasabah jadi berurusan dengan pihak lain, yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan hutangnya. Saat inipun banyak pula usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak-pihak lain, sebut saja ini merupakan pihak keempat, yang perlu juga diwaspadai, yang menawarkan jasa menbantu pembayaran kartu kredit, baik melalui SMS maupun melalui media on-line.

Pemerintah, Bank Indonesia, DPR, Kepolisian maupun pihak bank sendiri perlu menelaah munculnya pihak keempat yang ingin bermain didalam masalah kesulitan pembayaran kartu kredit nasabah bank. Sudah barang tentu, ini juga merupakan sebuah jasa mencari keuntungan, bukan usaha sosial semata, karena tidak ada yang gratis didunia ini.

Disisi lain banyak celah-celah praktek curang yang dilakukan oleh bank dalam kartu kredit, yang sangat merugikan nasabah. Hal ini berkaitan dengan masalah hukum perdata,  melanggar UU no 8 tentang perlidungan konsumen dan juga tidak sesuai dengan peraturan BI no. 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi informasi Produk Bank Dan Penggnaan Data Pribadi Nasabah. Silahkan baca tulisan seorang Blogger tentang ini klik disini http://hutang-kartu-kredit.blogspot.com/2010/02/praktek-curang-bank-dalam-kartu-kredit.html

Masalah kartu kredit ini juga dikatakan oleh anggota DPR, yang dimuat oleh okezone.com, Rabu, 6/4/2011 berikut : “Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis mengungkapkan bila pihaknya akan menegur perbankan, termasuk Citibank yang kini sedang banyak dirundung masalah. “Kita mau tegur perbankan, terutama Citibank. Saya suka baca di surat pembaca, keluhan cara penagihan yang tidak sopan dan permalukan orang di depan umum,” katanya, ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/4/2011). Dia menambahkan, seharusnya sebagai bank internasional, apabila memilih nasabah harus diperiksa kelengkapannya. Di mana bila track record sang nasabah tidak bagus atau tukang nunggak, lebih baik jangan dikasih kartu kredit. “Nanti penagihan macet. Eh pakai debt collector. Daripada bawa penyakit, mending seleksi ketat nasabah saja,” tegasnya.

Kasus kartu kredit di Citybank ini merupakan bank yang bermasalah sejak lama, simak saja ada nama sebuah blog yang dirilis atau yang menulis tetang peranan Citibank ini klik link berikut http://citibankindonesia.wordpress.com/2008/06/09/jangan-tergoda-bikin-kartu-kredit-citibank/ Diberitakan TEMPO Interaktif, Selasa 5/4/2011 : “Kepolisian Resor Jakarta Selatan menetapkan tersangka baru dalam kasus pembunuhan Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa Irzen Octa. “Dia menjabat sebagai head collection,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan siang ini. Budi menjelaskan tersangka baru berinisial BT itu yang memerintahkan tersangka lainnya, A, untuk menekan Irzen hingga melunasi utangnya di sebuah ruangan di Lantai 5 Kantor Citibank Cabang Menara Jamsostek. “Dia bosnya A,” ujarnya.

A bersama rekannya, H dan D, telah lebih dulu ditahan di Markas Polres Jakarta Selatan. Keempat tersangka ini bekerja menjadi debt collector melalui perusahaan outsourcing PT Fani Masyara Prima. Perusahaan itu, beserta perusahaan outsourcing yang digunakan Citibank lainnya, PT Taketama, telah diminta keterangan oleh polisi. Dari pengakuan para tersangka, saat kejadian, BT tidak berada di ruangan tempat tewasnya Irzen. “Tapi dia ada di lantai yang sama,” kata Budi. Irzen datang ke Kantor Citibank itu untuk membayar tagihan kartu kreditnya, tanggal 29 Maret lalu. Ia juga mengajukan protes ke pihak bank karena tagihannya membengkak dari Rp 48 juta ke Rp 100 juta”.

 

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s