Etika Berdebat

Etika Berdebat Yang Baik

Sumber : diedit dari http://cahyaislam.wordpress.com/2010/01/26/etika-berdebat/

Perdebatan adalah hal yang biasa dan lumrah dalam kehidupan. Perdebatan dapat timbul karena tak semua isi kepala manusia itu sama. Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menciptakan perbedaan-perbedaan diantara setiap manusia. Dengan adanya perbedaan itulah kita diajarkan untuk saling menghargai sesama, juga melatih kesabaran kita, apakah kita cukup berbesar hati menerima segala perbedaan yang ada?

Justru perbedaan itulah yang akan membuat dunia ini semakin berwarna, meski harus ada perdebatan di dalamnya. Namun sebagai manusia yang mencoba untuk lebih baik lagi, ada baiknya kita tetap selalu berada di koridor syariah. Berdebat secara sehat, misalnya berdebat tanpa panjang lebar, selanjutnya kita tinjau etika berdebat dalam Islam dari beberapa sumber semoga berguna bagi para debaters, baik saat berdebat/diskusi di dunia nyata maupun dunia maya.

Dalam bahasa Arab, perdebatan dikenal dengan istilah al-mujadalah. Kata al-mujadalah seakar dengan kata al-jidal yang artinya perdebatan sengit. Pendapat lain mengartikannya dengan tali yang terikat kokoh. Dari sini, kata al-jidal mengandung arti debat yang dilakukan dengan cara yang baik dan didasari dalil yang kuat dan benar. Pertama, debat harus dilakukan dengan tertib. Artinya, berbicara dan mengeluarkan pendapat tidak tergesa-gesa. Ada baiknya masalah yang akan diperdebatkan itu dicerna dan dipahami dulu dengan baik. Bila sudah dipikirkan dengan matang, barulah mengeluarkan pendapat dan gagasan yang aktual. Perlu diingat bahwa dalam mengeluarkan opini sebisa mungkin bergantian agar diskusi tetap tertib, menunggu dengan sabar sampai lawan debat selesai berbicara.

Kedua, gunakan bahasa yang tidak bertele-tele dalam berdebat. Langsung saja utarakan pendapat yang berkaitan dengan masalahnya secara singkat dan padat. Berbicara sedikit tetapi sarat makna, serta tepat dan sesuai dengan sasaran. Hal ini untuk menghindari pembicaraan di luar konteks. Bukankah perdebatan dalam sebuah diskusi itu bertujuan untuk untuk mencapai yang haq dan membatalkan yang batil?

Yang ketiga adalah hal yang tidak kalah penting yaitu cara kita dalam berbicara/mengeluarkan pendapat. Tentunya berbicara dengan kata-kata sopan, tidak menyinggung ataupun menyudutkan orang lain. Janganlah meremehkan dan menghinakan keberadaan lawan debat. Dengan demikian, perdebatan akan terhindar dari pembicaraan yang bernada cercaan dan mengundang kemarahan. “Bukanlah orang beriman, yang suka mencerca, melaknat, berbicara kotor, dan menyakiti,” sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Etika berdebat tersebut hendaknya dilakukan dengan rasa kesadaran yang tinggi, otomatis perdebatan tidak berubah menjadi keributan seperti yang sering kita lihat di televisi saat dewan terhormat sedang berdiskusi. Insya Allah dengan mengedepankan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kesepakatan akan diraih dengan perdebatan yang damai dan sehat.

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s