Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (EWS) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam

Hasil Penelitian Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (EWS) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam

a. Mengenai bencana yang pernah dialami

  1. Gempabumi merupakan bencana alam yang paling banyak dialami di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan bagi Aceh yang pernah mengalami bencana tsunami terhebat, menempatkan gempabumi sebagai pengalaman bencana utama. Namun sampai saat ini Indonesia masih belum mampu memiliki kemampuan untuk meramalkan kapan terjadinya gempabumi. Sehingga sulit untuk membangun sistem peringatan dini yang handal untuk permasalahan ini.
  2. Banjir menempati peringkat kedua bencana yang dialami oleh berbagai daerah di Indonesia, dimana dalam kenyataannya banjir merupakan jenis bencana alam yang dapat dikaitkan dengan permasalahan lingkungan yang misalnya disebabkan oleh pembalakan liar, pembukaan lahan dan sebagainya. Dibandingkan dengan gempabumi, banjir merupakan bencana alam yang dapat dibangun sistem peringatan dininya. Untuk itu, pemerintah daerah terkait perlu secara serius memikirkan untuk menyediakan sistem peringatan dini terhadap bencana banjir ini, termasuk untuk mengendalikan lingkungan agar tidak menimbulkan masalah yang potensial menyebabkan banjir.

b. Mengenai bencana yang paling dikhawatirkan.

  1. Banyak daerah yang menempatkan tsunami sebagai kekhawatiran utama akan bencana alam yang mungkin terjadi di daerahnya. Dan jika ini dikaitkan dengan potensi bencana yang akan dialaminya, maka daerah yang pernah mengalami gempabumi dan memiliki kekhawatiran besar terhadap tsunami merupakan daerah yang memerlukan pendekatan yang baik dalam diseminasi informasi peringatan dini. Karena kekhawatiran masyarakat sudah tinggi, dan perlu dibangun sistem peringatan dini yang disertai dengan metode diseminasi informasinya yang tepat, agar sistem peringatan dini dapat berjalan dengan baik. Jika perlu, pentahapan yang baik dalam penerapannya dapat memberikan efektifitas yang lebih baik lagi, apalagi jika dikombinasikan dengan kearifan lokal yang sudah dimiliki oleh masing-masing daerah
  2. Sebagaimana pengalaman bencana, banjir juga merupakan bencana yang dikhawatirkan, khususnya di kota-kota besar seperti Medan dan Surabaya. Karenanya, seperti telah diungkapkan di atas, keseriusan pemerintah untuk melakukan antisipasi termasuk pembangunan sistem peringatan dini merupakan hal yang perlu diprioritaskan. Apalagi kalau hal ini ingin dikaitkan dengan masalah pemanasan global yang menjadi isu dunia sekarang ini

c. Diseminasi Informasi / Sosialisasi EWS dan Koordinasi

  1. Sebagian besar dari instansi pemerintah daerah merasa sudah melakukan sosialisasi mengenai EWS secara memadai.
  2. Mayoritas responden menganggap pemerintah memiliki konsep penanganan permasalahan lingkungan dan bencana alam, tapi belum tersosialisasikan, sosialisasi / diseminasi informasi oleh lembaga yang berwenang sudah pernah dilakukan, tapi kurang efektif.
  3. Diseminasi informasi di sini adalah langkah penyebaran informasi peringatan dini mengenai permasalahan lingkungan dan bencana alam, agar masyarakat dapat mengambil keuntungan dari informasi yang diterima sebelum terjadi. Diseminasi informasi haruslah cepat dan tepat, agar dapat bermanfaat semaksimal mungkin.
  4. Sebagian besar instansi merasa bahwa koordinasi antar instansi / aparat dirasakan kurang efektif.
  5. Mayoritas menganggap bahwa koordinasi / mekanisme lembaga dalam menyampaikan informasi peringatan dini masih belum berjalan dengan baik ataupun kalau sudah berjalan namun kurang efektif
  6. Dalam penerapan sistem peringatan dini, keberadaan aparat berwenang sebagai panutan masih menjadi faktor penting. Pentingnya panutan ini memiliki korelasi dengan masih lemahnya koordinasi dalam penerapan sistem peringatan dini, dan efektifitas diseminasi informasinya. Sehingga pengembangan sistem peringatan dini harus melibatkan unsur panutan agar dapat membimbing masyarakat untuk memahami esensi dan cara-cara praktis untuk menghadapi bencana serta kesiapan terhadap peringatan dini yang dikeluarkan

d. Pendekatan Teknologi dalam Early Warning System

  1. Sebagai alat yang dipergunakan manusia seiring dengan perkembangan akalnya, teknologi merupakan salah satu faktor yang membuat hidup manusia menjadi nyaman. Untuk early warning system (sistem peringatan dini), teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu bidang teknologi yang memegang peranan penting di dalam kesuksesan penerapan sistem penerapan dini. Walaupun demikian, berbagai cabang ilmu dalam menerjemahkan fenomena ilmu merupakan pilar pendukung yang terus dikembangkan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar lagi di kemudian hari.
  2. Meskipun telah dikembangkan cara-cara baru dalam penerapan sistem peringatan dini, namun diseminasi informasi peringatan dini masih diharapkan dapat diterima melalui pesawat penerima biasa dan bukan pesawat penerima khusus. Dalam hal ini, cara tradisional sebenarnya masih merupakan cara yang ampuh, disamping radio yang telah akrab di masyarakat. Jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, maka hal ini menunjukkan potensi pemanfaatan TV digital (via transisi peralatan TV, termasuk set top box) untuk perangkat penyebar informasi peringatan dini, karena responden mengharapkan dimanfaatkannya perangkat yang sudah ada dibandingkan dengan perangkat khusus

e. Kearifan Lokal dalam Early Warning System.

  1. Alat pengeras suara pada tempat ibadah masing merupakan sarana yang dianggap ampuh untuk memberikan peringatan dini, sehingga penerapan sistem peringatan dini harus memperhatikan kedekatan masyarakat dengan sarana ini.
  2. Bagi beberapa daerah, pengetahuan yang telah diperoleh oleh para pendahulu dari pengalaman pahit yang dialami di masa lalu, merupakan warisan berharga yang melindungi keselamatan diri penduduk di daerah tersebut. Pulau Simeuleu dengan contoh tsunami tahun 2004 merupakan salah satu bukti betapa kearifan lokal memegang peranan penting di dalam membaca gejala alam dengan tepat dan mengambil tindakan yang tepat dalam meresponnya, daripada hanya mengandalkan teknologi. Paling tidak, untuk sebagian wilayah Indonesia yang tingkat penetrasi teknologinya juga masih belum terlalu tinggi, kearifan lokal seperti ini memiliki peran yang sangat penting.

f. Proses implementasi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (EWS) Untuk Permasalahan Lingkungan

  1. Mengefektifkan fungsi dan tugas Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Satkorlak PBP).
  2. Pembentukan Posko Pemantau Gempa dan Tsunami bertempat di Pantai.
  3. Dibentuk Posko-Posko di setiap Kecamatan dan Kelurahan yang dimotori oleh: pertama Karang Taruna melalui Gerakan Taruna Siaga, kedua Pramuka, dan ketiga Pemuka Masyarakat
  4. Pemasangan Alat Pendeteksi Gempa (Early Warning System) pada 2 titik (Nias & Mentawai) Bantuan dari Pemerintah Jerman bekerjasama dengan BBPT dan Kementrian Ristek RI.
  5. Pemasangan Alat Peringatan Dini (Sirene) pada tower-tower tertentu dalam daerah Kota Padang kerjasama dengan PT. Telkom (84 Tower).
  6. Siaga Telekomunikasi 24 Jam.
  7. Simulasi Evakuasi secara periodik.
  8. Menyiapkan Rencana Operasi dan Pelaksanaan Operasi Tsunami.
  9. Eksisting: Dibutuhkannya Prosedur Tetap Penanganan Bencana yang memadukan seluruh instansi, baik Pemko, TNI dan POLRI serta elemen masyarakat.
  10. Masyarakat belum tanggap terhadap System Peringatan Dini (EWS)karena belum merupakan bagian dari aktivitas kehidupannya.
  11. Kondisi infrastruktur belum memadai dan mahal.
  12. Belum semua instansi pemerintah pusat dan daerah mampu memasukkan anggaran System Peringatan Dini (EWS) pada APBN/APBD.
  13. Faktor tingkat kepedulian pimpinan atau pejabat daerah masih rendah terhadap implementasi System Peringatan Dini (EWS).
  14. Perlu dibuat suatu suatu model pengelolaan System Peringatan Dini (EWS) baik di pemerintah pusat maupun daerah.
  15. Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM di bidang TIK dapat dilakukan dengan membuka seluas-luasnya akses informasi serta mendorong semua pihak untuk ikut berpartisipasi.

g. Kebijakan-kebijakan tentang Diseminasi Informasi Peringatan Dini dan Permasalahan Lingkungan serta Bencana Alam:

  1. Kebijakan dan regulasi telah dibangun baik oleh Pemerintah Pusat Indonesia maupun Pemerintah Daerah.
  2. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) merupakan badan kunci dalam masalah penanggulangan bencana di Indonesia, dan telah membagi peran masing-masing lembaga terkait untuk menangani masalah bencana.
  3. Setiap unsur yang terkait harus siaga penuh menghadapai bencana seperti gempa, longsor, banjir dan abrasi pantai, terutama pada saat hujan turun yang disertai dengan badai dan naiknya pasang laut.
  4. Mendukung program Pemerintah Pusat dan Propinsi dalam usaha penanggulangan bencana baik secara formal maupun informal.
  5. Menyediakan dana pendamping yang memadai guna mendukung proyek-proyek Pemerintah Pusat maupun Propinsi yang dialokasikan terutama yang terkait dengan upaya mengatasi bencana, seperti proyek pengendalian banjir, proyek membuatan grip pantai, dan pembangunan jaringan jalan yang mampu mengarahkan pertumbuhan kota ke kawasan yang tidak rawan bencana dan menghalangi masyarakat untuk bermukim dikawasan rawan bencana.
  6. Menyelamatkan penduduk yang terkena bencana berupa kegiatan evakuasi ketempat yang lebih aman dan mendapatkan pelayanan kesehatan serta pelayanan sosial lainnya.
  7. Pembangunan infra struktur: – Dengan usaha pengalihan arah pengembangan kota kedaerah pemukimam yang cukup aman. – Melaksanakan pengawasan yang ketat agar masyarakat tidak mendirikan permukiman kawasan rawan bencana. – Menumbuhkan kesadaran agar pembangunan fisik khususnya seperti pembangunan gedung dan jembatan diharuskan yang tahan terhadap gempa. – Pembangunan lokasi relokasi dan shelter-shelter evakuasi.
  8. Kegiatan Edukatif: – Menitik beratkan kepada penumbuhan kesadaran “bagaimana hidup bersama dengan kejadian gempa“. – Mengintensifkan kegiatan penyuluhan/ sosialisasi terhadap masyarakat dan pemetaan daerah rawan bencana. – Khusus dalam menanggapi ancaman bahaya Tsunami diambil pula langkah penting berupa mengadakan kegiatan simulasi evakuasi terhadap masyarakat.
  9. Kegiatan Evakuasi; Mengupayakan relokasi bagi pemukiman yang berlokasi dikawasan rawan bencana.
  10. Pembuatan system pendeteksian, peringatan dan evakuasi dini, dengan membuat system yang dirancang dan mampu memberikan informasi secara akurat.

h. Manajemen Evakuasi System Peringatan Dini (EWS)

  1. Proses Evakuasi Masyarakat oleh SATKORLAK PBP atas Perintah WALIKOTA/BUPATI sebagai Pengambil Keputusan Perintah Evakuasi.
  2. Tim Evakuasi Masyarakat di bagi dua Tim : Pertama Tim Security / Pengamanan Untuk pengamanan Proses Evakuasi (TNI/POLRI, Satpol PP, DLLAJ). Kedua Tim Rescue mengutamakan orang-orang tua, wanita, cacat dan anak-anak. (Pemadam Kebakaran, SAR, Ambulance, Rescue team).
  3. Tim ini akan mulai bekerja langsung setelah perintah evakuasi diberikan.
  4. Pelaksanaan evakuasi dengan berjalan kaki menurut rute yang telah ditentukan sebelumnya, upaya ini dilakukan untuk mengurangi resiko kemacetan

i. Aplikasi Diseminasi Peringatan Dini Tsunami oleh Yayasan Air Putih

  1. Salah satu program yang dijalankan oleh Yayasan AirPutih adalah diseminasi informasi peringatan dini tsunami. Diseminasi informasi yangt dikeluarkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika tentang peringatan dini tsunami kepada masyarakat luas. Agar proses diseminasi ini mudah diperoleh masyarakat, Yayasan AirPutih melakukan kegiatan pengembangan aplikasi yang pernah dibuat sebelumnya, pengembangan ini tujuan utamanya adalah mempermudah masyarakat dalam memperoleh dan menggunakan aplikasi peringatan dini tsunami.
  2. Jika sebelumnya, aplikasi yang pernah dibangun untuk digunakan di media terutama stasiun televisi, sekarang aplikasi hasil pengembangan ini bisa diperoleh dan digunakan oleh masyarakat luas. Aplikasi bisa didownload di situs AirPutih, tinggal dijalankan di komputer yang terkoneksi dengan internet. Kemudian, tinggal klik connect pada program yang sudah berjalan di komputer tersebut. Secara otomatis, akan menerima informasi peringatan dini terbaru dari BMG. Program/aplikasi yang dikembangkan ini untuk sementara masih berjalan di platform operating system Windows.

Sumber : Puslitbang Aptel, SKDI, Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo 2007

Tentang Jadhie Whardhana Fernando

Pemerhati Komunikasi dan Informatika
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s